Kesukaan

...لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا... 

Di minggu kedua bulan Juli, musim panas, namun hujan deras bagiku. Aku duduk di parkiran sebuah rumah sakit, sendirian menahan tangis dan ragu, sanggupkah aku melewati ini, hatiku bergetar saat mendengar penggalan ayat itu, entah dari speaker masjid mana dan siapa yang melantunkannya, namun berhasil membuat aku percaya bahwa karena Allah, aku mampu melewati derasnya hujan ini dan pelangi akan datang menyambutku. 

Walau iman ku naik turun. Walau aku sering bertanya ini adil atau tidak. Tapi aku percaya, Allah tidak pernah meninggalkan ku bahkan untuk sedetik. Jelas jejak Firmannya dalam surah Ad-Dhuha ayat 3
 مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىؕ‏ 
"Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu"


 Dengan aku ingat kedua ayat Nya ini pun, menjadi  bukti bahwa dia selalu bersamaku, bersama kita semua. Di mana dan saat keadaan apapun. 

Tidak pernah aku rasakan ujian sedahsyat ini. Allah beri kenikmatan luar biasa pada wanita terbaik ku, wanita tersayang ku. Dia tidak boleh sakit, tidak boleh sedih. Sampai aku lupa, bahwa dia juga manusia, dia juga tidak mungkin selalu tertawa dan sehat. Allah beri hentakkan pada hatiku. Ibu sakit. Sakit yang tidak sembuh hanya dengan olesan minyak angin. Semuanya mendadak, tidak terduga, padahal sebelumnya, di usianya, dia jauh lebih sehat dari pada aku.

Senyumnya adalah cahaya untuk siang dan malam ku. Bercanda gurau dengannya adalah salah satu healing terbaikku. Tapi itu semuanya menghilang, dan aku berharap itu hanya sementara. Aku merasa sendirian dan marah. Aku memohon. Tukar saja, aku yang sakit. 

Aku kesana kemari, mencari tempat dan seorang yang mampu hilangkan sakitnya beliau. Tapi tidak ada perubahan yang berarti, Ibu masih merintih sakit dan aku pontang panting tak tentu arah. Tidak tahu harus bertanya pada siapa. Tersesat, lalu marah lagi entah pada siapa, kenapa aku harus marah, aku juga tidak pernah tenang Aku ingin merasa lega, tapi bahkan aku tidak bisa menangis.

Aku lupa, selama ini Allah lah yang selalu bersama ku, Allah juga tidak meminta ku berlari-larian mencari jalan keluar atas ujian ini. Apalagi menyalahkan orang lain. Allah hanya meminta sholat dan bersabar.  Berat sekali untukku. Namun Allah selalu maha Benar, Dia beri jalan untuk Ibu, untuk kami. Jalan menuju kesembuhannya. Allah tuntun Ibu ke tempat terbaik, pertemukan kami dengan dokter yang dengan IzinNya mampu sembuhkan sakitnya Ibu. Tidak sekejap, namun terasa mudah. Lalu, hujan di musim panas itu reda. 


Setiap kali ku ingat hal ini Teringat pula betapa takutnya aku
Setiap hari ketakutan saat harus terpaksa menunaikan kewajibanku lalu meninggalkan Ibu ku  yang sakit di rumah.
 Aku takut, sisa umurku di penuhi rasa penyesalan.
Aku takut, tidak melihat senyum nya kembali.
Aku sakit, saat harus tetap tersenyum di depan banyak orang, padahal dada ku penuh sesak.
Aku ingin mengucap jutaan kali rasa sayang ku padanya setiap hari.
Aku ingin beribu-ribu kali meminta maaf, karena sering kali memasak mie rebus daripada makan masakannya.

Saat itu, aku tidak ingin apa-apa lagi, selain melihat senyum nya atau memarahi ku Semua hal tentangnya adalah kesukaanku Melihatnya lagi mampu sholat berdiri tegak, mengenakan mukena favoritnya, mencoba baju barunya, mengantarnya ke pasar lagi setelah sekian lama, rasanya aku tidak ingin berhenti mengucap terima kasih, pada Allah, pada rumah sakit dan tim dokternya, pada Ibu ku tentunya, yang dengan berani melawan rasa sakit juga takut.

Aku tidak peduli lagi jika orang lain tidak datang menjenguknya. Selama ibu sehat, hatiku hangat. Hariku cerah dan segalanya terasa mudah dan menyenangkan.


2021 bukan tahun yang mudah bagiku, juga Ibuku. Lewat Hujan deras ini, ujian ini, Allah menyadarkanku, bahwa Ibu ku juga manusia biasa, sesayang apapun anaknya, tidak mampu berbuat apa-apa selain berserah pada Yang Memiliki ibu.
Aku tidak pernah sendirian, Allah selalu bersamaku, Dia tidak pernah meninggalkanku. Di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Allah juga tidak pernah menguji hambanya di luar batas kemampuannya.



Aku yang kala itu berusia 20 tahun, Kalimat favoritnya adalah Firman Allah penggalan surah Al-Baqarah ayat 286 
...لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا... 
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya"

Komentar